Tuesday, April 30, 2013

Materi ALK : Analisis Sumber dan Penggunaan Modal Kerja

Analisis Sumber dan Penggunaan Modal Kerja

Modal kerja didefinisikan sebagai aktiva lancar dikurangi kewajiban lancar. Jhon Fred Weston dan Thomas E.Copeland (1996 : 327) menjelaskan bahwa modal kerja merupakan investasi perusahaan dalam bentuk uang tunai, surat berharga, piutang dan persediaan, dikurangi dengan kewajiban lancar yang digunakan untuk membiayai aktiva lancar.

Menurut Munawir S (1995 : 114), ada tiga konsep atau definisi modal kerja yang umum dipergunakan ), yaitu:

1.Konsep kuantitatif
Konsep ini Menitik beratkan kepada kuantum yang diperlukan untuk mencukupi kebutuhan perusahaan dalam membiayai operasinya yang bersifat rutin atau menunjukkan jumlah dana yang tersedia untuk tujuan operasi jangka pendek. Dalam konsep ini menganggap bahwa modal kerja adalah jumlah aktiva lancar. Konsep ini tidak mementingkan kualitas dari modal kerja, apakah modal kerja dibiayai para pemilik, hutang jangka pendek, sehingga dengan modal kerja yang besar tidak apat mencerminkan tingkat keamanan para kreditur jangka pendek yang besar juga. Bahkan menurut konsep ini dengan adanya modal kerja yang besar tidak menjamin kelangsungan operasi yang akan datang, serta tidak mencerminkan likuiditas perusahaan yang bersangkutan.

2.Konsep Kualitatif
Konsep ini menitik beratkan pada kualitas modal kerja, pengertian modal kerja dalam konsep ini adalah kelebihan aktiva lancar terhadap hutang lancar. Definisi ini bersifat kualitatif karena menunjukkan tersedianya aktiva lancar yang lebih besar dari hutang lancar dan menunjukkan pula tingkat keamanan bagi para kreditur jangka pendek, serta menjamin kelangsungan operasi dimasa mendatang dan kemampuan perusahaan untuk memperoleh tambahan pinjaman jangka pendek dengan jaminan lainnya. 3.Konsep Fungsional Konsep ini menitik beratkan pada fungsi dana yang dimiliki dalam rangka menghasilkan pendapatan (laba) dari usaha pokok perusahaan. Pada dasarnya dana yang dimiliki oleh perusahaan sepenuhnya akan digunakan untuk menghasilkan laba, ada sebagian dana yang akan digunakan untuk memperoleh atau menghasilkan laba dimasa yang akan datang. Misalnya bangunan, pabrik, alat-alat kantor dan aktiva tetap lainnya. Ada 2 konsep utama modal kerja menurut James C. Van Horn dan John M. Wachowicz, Jr. (1997 : 214) yaitu : 1.Modal Kerja Bersih, yaitu perbedaan jumlah aktiva lancar dengan kewajiban lancar. Konsep ini merupakan ukuran sejauh mana perusahaan dilindungi dari masalah likuiditas. 2.Modal Kerja Kotor, yaitu Investasi perusahaan dalam aktiva lancar (seperti kas, sekuritas, piutang, dan persediaan).

SEBAB PERUBAHAN MODAL KERJA
-        Adanya kenaikan sector modal baik yang berasal dari laba maupun adanya pengeluaran modal saham atau tambahan investasi dari pemilik perusahaan maka modal kerja akan bertambah
-         Ada pengurangan atau penurunan aktiva tetap yang diimbangi dengan bertambahnya aktiva lancar karena adanya penjualan aktiva tetap maupun melalui proses depresiasi,modal kerja kan bertambah
-       Ada penambahan hutang jangka panjang baik dalam bentuk obligasi, hipotek, atau hutang jangka panjang lainnya yang diimbangi dengan bertambahnya aktiva lancar, maka modal kerja akan bertambah
-       Karena kerugian yang diderita oleh perusahaan, baik kerugian normal maupun kerugian exidentil.maka akan mengurangi modal kerja.
-        Adanya pembentukan dana atau pemisahan aktiva lancar untuk tujuan-tujuan tertentu dalam jangka panjang.maka akan mengurangi modal kerja
-        Adanya penambahan atau pembelian aktiva tetap maka akan mengurangi modal kerja
-        Pengambilan uang atau barang yang dilakukan oleh pemilik perusahaan untuk kepentingan pribadi.

TUJUAN DAN SUMBER MODAL KERJA

Tujuan laporan perubahan modal kerja adalah memberikan ringkasan transaksi keuangan yang terjadi selama satu periode dengan menunjukan sumber dan penggunaan modal kerja dalam periode tersebut. Laporan perubahan modal kerja akan memberikan gambaran tentang bagaimana management mengelolah perputaran atau sirkulasi modalnya. Dimana sumber- sumber modal kerja berasal…
  1. Hasil operasi perusahaan.
  2. Keuntungan dari pernjualan surat-surat berharga ( investasi jangka pendek )
  3. Penjualan aktiva tidak lancar
  4. Penjualan saham atau obligasi
Langkah-langkah Dalam Analisis Sumber Dan Penggunaan Modal Kerja
Sebelum mengemukakan langkah-langkah dalam menganalisis sumber dan penggunaan modal kerja, akan dikemukakan terlebih dahulu yang termasuk kedalam sumber modal kerja dan juga penggunaan modal kerja. Sumber Modal Kerja Pada dasarnya, sumber modal kerja terdiri dari dua pokok, yaitu: a.Bagian yang tetap atau bagian yang permanen yaitu jumlah minimum yang harus tersedia agar perusahaan dapat berjalan dengan lancar tanpa kesulitan keuangan, dan b.Jumlah modal kerja yang variabel yang jumlahnya tergantung pada aktivitas musiman dan kebutuhan-kebutuhan diluar aktivitas yang biasa. Sumber-sumber modal kerja pada umumnya berasal dari: 1)  Hasil operasi perusahaan, adalah jumlah pendapatan yang nampak dalam laporan perhitungan laba rugi ditambah dengan depresiasi dan amortisasi. 2)  Keuntungan dari penjualan surat-surat berharga (investasi jangka pendek), dalam menganalisis sumber modal kerja yang berasal dari keuntungan penjualan surat-surat berharga harus dipisahkan dengan modal kerja yang berasal dari hasil usaha pokok perusahaan. Dari hasil penjualan surat berharga ini menyebabkan terjadinya perubahan dalam unsur modal kerja yaitu dari bentuk surat berharga berubah menjadi kas. 3)  Penjualan aktiva tidak lancar, perubahan aktiva tidak lancar menjadi kas atau piutang akan menyebabkan bertambahnya modal kerja. Apabila hasil dari penjualan aktiva tetap atau aktiva tidak lancar ini tidak digunakan untuk mengganti aktiva yang bersangkutan, akan menyebabkan keadaan aktiva lancar sedemikian besarnya sehingga melebihi jumlah modal kerja yang dibutuhkan (adanya modal kerja yang berlebih-lebihan). 4)   Penjualan saham atau obligasi, Perusahaan dapat mengeluarkan obligasi atau bentuk hutang jangka panjang guna memenuhi kebutuhan modal kerjanya penjualan obligasi ini mempunyai konsekuensi bahwa perusahaan harus membayar bunga tetap, oleh karena itu dalam mengeluarkan hutang dalam bentuk obligasi ini harus disesuaikan dengan kebutuhan perusahaan Penjualan obligasi yang tidak sesuai dengan kebutuhan (terlalu besar) disamping menimbulkan beban bunga yang besar, juga akan mengakibatkan keadaan aktiva lancar yang besar sehingga melebihi jumlah modal kerja yang dibutuhkan.
 
1.       Laporan Sumber-Sumber Dan Penggunaan Dana (Dalam Artian Kas)
a.  Langkah-langkah menyusun laporan sumber-sumber dan penggunaan dana
1) Menyusun laporan perubahan neraca, yang menggambarkan      perubahan masing-masing elemen neraca antara dua titik waktu yang akan dianalisa (bulanan atau tahunan)
2) Mengelompokkan perubahan-perubahan dalam golongan perubahan yang memperbesar / memperkecil kas
3) Mengelompokkan elemen-elemen dalam laporan rugi dan laba (laporan laba ditahan) ke dalam golongan yang memperbesar/ memperkecil kas
4) Mengadakan konsolidasi dari semua informasi ke dalam laporan sumber-sumber dan penggunaan dana

b.      Perubahan elemen neraca antara dua saat efeknya memperbesar kas disebut sumber-sumber dana
1)      Berkurangnya aktiva lancar selain kas
a) Berkurangnya barang (inventory) terjadi karena terjualnya barang tersebut dan hasil penjualan itu merupakan sumber dana/ kas bagi perusahaan.
b) Berkurangnya piutang berarti piutang telah dibayar dan penerimaan piutang merupakan penambahan dana yang diterima oleh perusahaan yang bersangkutan.
c) Berkurangnya surat-surat berharga (efek) berarti efek itu terjual dan hasil penjualan tersebut merupakan sumber dana/ kas bagi perusahaan
2)      Berkurangnya aktiva tetap
a) Berkurangnya aktiva tetap bruto berarti sebagian aktiva tetap harus dijual dan hasil penjualannya merupakan sumber dana
b) Berkurangnya aktiva tetap neto  berarti adanya depresiasi dalam tahun yang bersangkutan
3)      Bertambahnya setiap jenis hutang
Bertambahnya hutang (hutang lancar, hutang jangka panjang) berarti terjadi penambahan dana yang diterima oleh perusahaan yang bersangkutan
4)      Bertambahnya modal
Bertambahnya modal disebabkan adanya emisi saham baru dan hasil penjualan saham baru tersebut merupakan sumber dana
5)      Adanya keuntungan dari operasi perusahaan
Apabila perusahaan mendapatkan keuntungan neto dari operasinya berarti bahwa ada tambahan dan bagi perusahaan yang bersangkutan. Mengenai perubahan-perubahan yang efeknya memperkecil dana/ kas, antara lain :
a.       Bertambahnya aktiva lancar selain kas
    Bertambahnya aktiva lancar dapat terjadi karena pembelian barang dan pembelian barang membutuhkan dana. Dengan demikian, penambahan aktiva lancar merupakan penggunaan dana.
b.      Bertambahnya aktiva tetap
    Bertambahnya aktiva tetap bruto dapat terjadi karena adanya pembelian aktiva tetap dan pembelian aktiva tetap merupakan penggunaan dana
c.       Berkurangnya hutang
    Berkurangnya hutang, baik hutang lancar maupun hutang jangka panjang dapat terjadi karena perusahaan telah melunasi atau mengangsur hutangnya. Pembayaran kembali hutang berarti penggunaan dana
d.      Berkurangnya modal
Berkurangnya modal dapat terjadi karena pemilik perusahaan mengambil kembali atau mengurangi modal yang tertanam dalam perusahaan. Berkurangnya modal berarti berkurangnya dana. Ini berarti bahwa penggunaan modal itu merupakan penggunaan dana. Dalam P.I. pembelian kembali sahampun merupakan penggunaan dana
e.      Pembayaran cash deviden
Pembayaran cash deviden merupakan penggunaan dana. Cash deviden dibayarkan dari keuntungan neto sesudah pajak

6)      Kerugian operasi perusahaan
Timbulnya kerugian selama periode tertentu dapat disertai dengan berkurangnya aktiva atau bertambahnya hutang. Sebenarnya bertambahnya hutang merupakan sumber dana tetapi dengan adanya kerugian. Dengan demikian, maka adanya kerugian merupakan penggunaan dana.

c.       Contoh laporan sumber-sumber dan penggunaan dana

Selama tahun 1981, Perusahaan PT. Rahayu mendapatkan keuntungan netto sesudah pajak sebesar Rp. 1.500.000 dan dibayarkan sebagai cash deviden sebesar Rp. 700.000
 
PERUSAHAAN PT. RAHAYU
LAPORAN SUMBER-SUMBER DAN PENGGUNAAN DANA
31 DESEMBER 1980 – 31 DESEMBER 1981
(DALAM RIBUAN RUPIAH)

Dari laporan penggunaan dana tersebut diatas, nampak bahwa penggunaan dana yang menonjol adalah untuk penambahan mesin, penambahan tanah dan pembayaran cash deviden.
-          Bertambahnya mesin, berarti perusahaan telah mengadakan perluasan usahanya.
-          Bertambahnya mesin, berarti perusahaan telah mengadakan perluasan usaha
-          Pembelian tanah, berarti persiapan ekspansi lebih lanjut

Bagaimana penambahan mesin dan tanah itu dibelanjai ?
Kita harus meneliti sektor sumber-sumber dananya. Sumber-sumber dana yang menonjol adalah dana yang berasal dari keuntungan neto dan depresiasi (internal sources) dan hutang jangka panjang (obligasi).
-          Dari keuntungan neto dibayarkan sebagai cash deviden sebesar Rp. 700.000 (47%) dan masih ada sisa keuntungan neto sebesar Rp. 800.000 (Rp. 1.500.000 – Rp.  700.000). Sisa keuntungan tersebut merupakan modal sendiri. Dana yang paling tepat untuk membiayai pembelian tanah tetapi ternyata dananya tidak cukup karena tambahan tanah meliputi jumlah Rp. 1.400.000. Dengan demikian kekurangannya sebesar Rp. 600.000 dibelanjai dengan hutang jangka panjang
-          Hutang jangka panjang sebagian digunakan untuk menutup kekurangan dana untuk membeli tanah dan sisa hutang jangka panjang yang tersedia untuk pembelian mesin (1.500.000 – Rp.  600.000), tinggal sisanya sebesar Rp. 900.000
-          Tambahan mesin meliputi Rp. 1.000.000 dan dapat dibelanjai dengan hutang jangka panjang dan depresiasi

Dari analisa sumber-sumber dan penggunaan dana PT. Rahayu dapat disimpulkan bahwa perusahaan menggunakan dananya dalam tahun 1981 sebagian besar untuk ekspansi dalam bentuk pembelian mesin dan tanah.
-          Pembelian mesin dibelanjai terutama dengan hutang jangka panjang dan depresiasi. Kebijaksanaan tersebut dapat dibenarkan ditinjau dari sudut likuiditas.
-          Pembelian tanah dibelanjai sebagian dengan modal sendiri dan sebagian dari hutang jangka panjang. Kebijaksanaan pembiayaan tanah dengan hutang tidak dibenarkan ditinjau dari sudut likuiditas

a.       Pengertian ananlisa sumber-sumber dan penggunaan dana (analisa aliran dana)
Analisa sumber-sumber dan penggunaan dana (analisa aliran dana) adalah  alat analisa finansiil yang sangat penting bagi financial manager disamping alat-alat finasiil lainnya.
b.      Tujuan analisa sumber-sumber dan penggunaan dana
Untuk mengetahui bagaiman dana digunakan dan bagaimana kebutuhan dana tersebut dibelanjai. Dengan kata lain, analisa aliran dana akan dapat diketahui dari mana datangnya dana dan untuk apa dana itu digunakan.
c.       Pengertian laporan sumber-sumber dan penggunaan dana
Laporan sumber-sumber dan penggunaan dana adalah suatu laporan yang menggambarkan dari mana datangnya dan untuk apa dana itu digunakan.
d.      Manfaat laporan sumber-sumber dan penggunaan dana bagi bank
Laporan ini sangat penting bagi bank dalam menilai permintaan kredit yang diajukan kepadanya. Dengan menganalisa laporan itu maka dapat diketahui bagaimana peruahaaan itu menggunakan dana yang dimilikinya.
e.  Langkah-langkah dalam menganalisa sumber-sumber dan penggunaan dana
1)      Penyusunan laporan perubahan neraca (statement of balance sheets changes)
     Laporan ini menggambarkan perubahan dari masing-masing elemen neraca antara kedua titik waktu itu dan setiap perubahan elemen tersebut mencerminkan adanya sumber atau penggunaan dana.
2)  Laporan sumber-sumber dan penggunaan dana
            Laporan ini berasal dari gabungan antara laporan perubahan neraca dan laporan laba ditahan. Pengertian dana yang digunakan dalam analisa sumber-sumber dan penggunaan dana disebut kas (arti sempit) atau modal kerja (arti luas). 
  Laporan Sumber-Sumber Dan Penggunaan Dana (Dalam Artian Modal Kerja)
Dalam kenyataannya selain membuat  laporan sumber dan penggunaan dana atas dasar kas, perusahaan juga membuat laporan sumber dan penggunaan dana atas dasar modal kerja (statements of sources and uses of working capital).
a.  Pengertian modal kerja
Modal kerja dapat diartikan beberapa Modal kerja adalah kelebihan    aktiva lancar diatas hutang lancar.
b.  Dalam laporan sumber dan penggunaan modal kerja tidak dicantumkan penggunaan dana yang berasal dari modal sendiri karena tidak akan mengakibatkan perubahan modal kerja (netto).

c.      Contoh

Selanjutnya terjadi berbagai transaksi yang mengakibatkan perubahan unsur aktiva lancar dan hutang lancar, yaitu :
a.       Perubahan ke – 1
Pembelian barang (inventory) secara kredit sebesar Rp. 50.000. 
b.     Perubahan ke – 2
Pembayaran hutang perniagaan sebesar Rp. 100.000 dengan kas


Dari contoh diatas, dapat ditarik kesimpulan bahwa jumlah modal kerja harga akn berubah jika ada perubahan dalam non current account (aktiva tetap, hutang jangka panjang dan modal sendiri). Perubahan unsur non current account yang memperbesar modal kerja disebut dengan sumber modal kerja atau sources of work capital. Sedangkan yang memperkecil modal kerja disebut dengan penggunaan modal kerja.

   Jika penggunaan modal kerja lebih kecil dibandingkan dengan sumber modal kerja maka hal ini akan mempunyai efek neto yang positif. Sedangkan jika penggunaan modal kerjanya lebih besar maka efek netonya akan memperkecil modal kerja.

  Sumber-sumber modal kerja, antara lain :
a.       Berkurangnya aktiva tetap
b.      Bertambahnya hutang jangka panjang
c.       Bertambahnya modal
d.      Keuntungan dan operasi perusahaan
    Penggunaan modal kerja
a.       Bertambahnya aktiva tetap
b.      Berkurangnya hutang jangka panjang
c.       Berkurangnya modal
d.      Pembayaran cash deviden
e.       Adanya kerugian dalam operasi perusahaan

 sumber :
-   http://ilmumanajemen.wordpress.com/2007/08/08/modal-kerja/
-    http://frenkymay.blogspot.com/2011/06/analisis-sumber-dan-penggunaan-modal.html
 -   widanarto.files.wordpress.com/.../bab-iii-lanjutan-sumber-sumber-da...

Variable Costing dan Full Costing





VARIABLE COSTING


I.   Pengertian Variable Costing
Penentuan harga pokok variabel (variable costing) adalah suatu konsep penentuan harga pokok yang hanya memasukkan  biaya produksi variabel sebagai elemen harga pokok produk. Biaya produksi tetap dianggap sebagai biaya periode atau atau biaya waktu (period cost) yang langsung dibebankan kepada laba-rugi periode terjadinya dan tidak diperlakukan sebagai biaya produksi.

II.  Tujuan Penentuan  Harga Pokok Variabel (Variable Costing)
 Penentuan harga pokok variabel ditujukan untuk memenuhi kebutuhan manajemen dalam memperoleh informasi yang berorientasi  pada pengambilan keputusan jangka pendek, yaitu:
1.      Membantu manajemen untuk mengetahui batas kontribusi (contribution margin) yang sangat berguna untuk perencanaan laba melalui analisa hubungan biaya-volume-laba (cost-profit-volume)  dan untuk pengambilan keputusan (decision making) yang berhubungan dengan kebijaksanaan manajemen jangka pendek.
2.      Memudahkan manajemen dalam mengendalikan kondisi-kondisi operasional yang sedang berjalan serta menetapkan penilaian dan pertanggungjawaban kepada departemen atau divisi tertentu dalam perusahaan.
Jika dihubungkan dengan pihak-pihak yang memakai laporan biaya, maka variabel costing bertujuan sebagai berikut:
1.      Untuk pihak internal, variabel costing digunakan untuk tujuan-tujuan:
a.       Perencanaan laba
b.      Penentuan harga jual produk
c.       Pengambilan keputusan oleh manajemen
d.      Pengendalian biaya
2.      Untuk pihak eksternal
Meskipun tujuan utamanya untuk pihak internal, konsep variabel costing dapat pula digunakan oleh pihak eksternal untuk tujuan:
  1. Penentuan harga pokok persediaan
  2. Penentuan laba
Tujuan eksternal tersebut hanya dapat dicapai apabila laporan yang disusun atas dasar variabel costing disesuaikan dengan teknik-teknik tertentu, menjadi laporan yang disusun atas dasar konsep harga pokok penuh (full costing), sebab konsep variabel costing tidak sesuai dengan prinsip akuntansi yang berlaku umum.



III.  Perbedaan Konsep Variable Costing Dengan Full Costing
Perbedaan antara kedua konsep tersebut terletak pada tujuan utamanya, yaitu konsep variabel costing mempunyai tujuan utama untuk pelaporan internal sedangkan konsep full costing mempunyai tujuan utama untuk pelaporan eksternal. Adanya kedua perbedaan tersebut mengakibatkan perbedaan perlakuan terhadap biaya produksi tetap yang selanjutnya mempengaruhi:
1.      Penentuan besarnya harga pokok produk dan besarnya harga pokok persediaan.
2.      Penggolongan dan penyajian di dalam laporan laba-rugi.
Pembahasan tentang perbedaan metode variable costing dengan metode full costing dapat ditinjau dari segi;
1.      Penentuan harga pokok produk
Pada metode full costing, semua elemen biaya produksi baik tetap maupun variabel dibebankan ke dalam harga pokok produk. Oleh karena itu elemen harga pokok produk meliputi:
  1. BBB (raw material cost)
  2. BTKL (direct labor cost)
  3. BOP  variabel (variable FOH)
  4. BOP  tetap (fixed FOH)
Sedangkan pada metode variabel costing hanya memasukkan atau membebankan biaya produksi variabel  ke dalam harga pokok produk. Elemen harga pokok produk meliputi:
  1. BBB (raw material cost)
  2. BTKL (direct labor cost)
  3. BOP  variabel  (variable FOH)

Elemen biaya
Full costing
Variable costing
BBB(raw material cost)
BTKL(direct labor cost)
BOP variabel (variable FOH)
BOP tetap (fixed FOH)
Jumlah Harga Pokok Produk
Rp.xxx
Rp.xxx
Rp.xxx
Rp.xxx
Rp. xxx
Rp.xxx
Rp.xxx
Rp.xxx
_
Rp.xxx

2.      Penentuan harga pokok persediaan
Dengan adanya perbedaan pembebanan elemen biaya produksi (production cost) kepada produk antara metode full costing dengan metode variable costing, mengakibatkan pula perbedaan harga pokok persediaan. Pada metode full costing BOP tetap (fixed FOH) dibebankan ke dalam harga pokok produk. Oleh karena itu jika sebagian produk masih ada dalam persediaan atau belum terjual maka sebagian BOP tetap (fixed FOH) masih melekat pada harga pokok persediaan. Metode variable costing tidak membebankan BOP tetap (fixed FOH) ke dalam harga pokok produk, akan tetapi BOP tetap (fixed FOH) langsung dibebankan ke dalam laba-rugi sebagai biaya periode. Oleh karena itu produk yang masih ada dalam persediaan atau belum terjual hanya dibebani biaya produksi variabel atau BOP tetap (fixed FOH) tidak melekat pada harga pokok persediaan.
3.  Penyajian Laporan Laba-Rugi
Perbedaan di dalam  penyajian laporan laba-rugi antara metode full costing dengan variable costing dapat ditinjau dari segi:
a.       Penggolongan biaya dalam laporan laba-rugi
Pada metode full costing, biaya digolongkan menjadi dua, yaitu:
  1. Biaya produksi, meliputi BBB (raw material cost), BTKL(direct labor cost) dan BOP tetap (fixed FOH) maupun BOP variabel (variable FOH).
  2. Biaya non produksi atau biaya periode (period cost), meliputi semua biaya yang tidak termasuk dalam harga pokok produk sehingga harus dibebankan langsung ke laporan laba-rugi periode terjadinya.
Pada metode variable costing, biaya digolongkan menjadi:
  1. Biaya variabel (variable costs), meliputi semua biaya yang jumlah totalnya berubah secara proporsioanal sesuai dengan perubahan volume kegiatan. Biaya ini dikelompokkan ke dalam:
-          Biaya variabel produksi, yaitu BBB, BTKL dan BOP variabel.
-          Biaya variabel non produksi, yaitu biaya pemasaran variabel (variable of marketing expense), biaya adminstrasi dan umum variabel (variable of general & administative expense), biaya finansial variabel (variable of financial expense).
  1. Biaya tetap (fixed costs), meliputi semua biaya yang jumlah totalnya tetap konstan tidak dipengaruhi oleh perubahan volume kegiatan. Biaya tetap pada konsep variable costing disebut pula dengan biaya periode (period cost) atau disebut pula biaya kapasitas(capacity cost).
b.      Struktur atau susunan penyajian laporan laba-rugi
1.      Metode Full costing
Laporan Laba-Rugi
Untuk periode yang berakhir 31 Desember …
_________________________________________________________________
      Penjualan (sales)                                                                                              xxx
      Biaya Produksi (production cost):
      Persed.awal brg jadi (beginning finished goods inventory)               xxx
      BBB (raw material cost)                                                         xxx
      BTKL direct labor cost)                                                          xxx
      BOP variabel (variable FOH)                                                 xxx
      BOP tetap (fixed FOH)                                                          xxx
      HP.Produksi (cost of goods manufactured)                                       xxx +
      Brg tersedia untuk dijual ( goods available for sales)                         xxx
      Persed. Akhir brg jadi (ending finished goods inventory)                 xxx –
      HPP (cost of goods sold)                                                                                xxx –
      Laba kotor (gross income)                                                                              xxx
      Biaya Non Produksi (Non production cost):
      Biaya pemasaran (marketing expense)                                                xxx
     
Biaya administrasi dan umum
(general & adiminstrative expense)                                         xxx +
      Total biaya non produksi                                                                                xxx –
      Laba bersih sebelum pajak (EBT)                                                                   xxx

  1. Metode variabel costing

Laporan Laba-Rugi
Untuk periode yang berakhir 31 Desember …
      ________________________________________________________________
Penjualan (sales)                                                                                              xxx
Biaya variabel (variable cost):
      Persed.awal brg jadi (beginning finshed goods inventory)                xxx
      BBB (raw material cost)                                                         xxx
      BTKL (direct labor cost)                                                        xxx
      BOP (FOH) variabel                                                               xxx +
      HP.Produksi (cost of goods manufactured)                                       xxx +
      BTUD (goods available for sales)                                                       xxx
      Persed. Akhir brg jadi (ending finished goods inventory)                 xxx –
      HPP(cost of goods sold)                                                                                 xxx –
Margin kontribusi kotor (gross CM)                                                               xxx
Biaya komersial variabel (variable of commercial expenses);
Biaya pemasaran variabel (variable of marketing expenses)   xxx
Biaya adm.& umum variabel
(variable of general and administrative expenses)                  xxx +
                                                                                                                        xxx –
Batas kontibusi bersih (net CM)                                                                     xxx
Biaya tetap (fixed cost);
BOP tetap (fixed FOH)                                                          xxx
Biaya pemasaran tetap (fixed marketing expenses)                xxx
Biaya adm.& umum tetap
(fixed general and administrative expenses)                           xxx +
                                                                                                                        xxx -
Laba bersih setelah pajak (EAT)                                                                     xxx     







*** CONTOH  SOAL  VARIABLE COSTING ***
 



Pada tahun 1999, PT.LABALA memproduksi 1000 unit batako.  Biaya produksi yang dikeluarkan selama tahun 1999 adalah sebagai berikut:
            Biaya bahan baku (raw material cost)                                                 500.000
            Biaya tenaga kerja langsung (direct labor cost)                                  350.000
            Biaya bahan penolong (indirect material cost)                                                100.000
            Biaya tenaga kerja tidak langsung (indirect labor cost)                      110.000
            Depresiasi bangunan pabrik (depreciation of factory  building)         100.000
Data lain yang diperoleh selama tahun 1999 adalah:
·         Harga jual Rp.2000 per unit.
·         Produk terjual sebanyak 900 unit.
·         Persediaan awal 100.000 (metode full costing) dan 90.000 (metode variable costing). 
·         Persediaan akhir 232.000 (metode full costing) dan 212.000 (metode variable costing).
·         Pembebanan BOP (factory overhead) berdasar BTKL.
·         Kapasitas normal dicapai pada saat BTKL sebesar Rp.400.000 per tahun dengan perkiraan BOP variabel Rp.250.000 dan BOP tetap Rp.110.000.
·         Biaya administrasi dan umum (general and administrative expense) Rp.100.000.
·         Biaya iklan (advertising expense) Rp.300.000.

Diminta :

1.      Dengan menggunakan metode Full costing, hitunglah;
  1. Tarif BOP per unit dan jumlah BOP yang dibebankan.
  2. Laporan Laba/Rugi (income statement).
2.      Laporan Laba/Rugi dengan metode Variable costing.


0KASUS 1

Berikut adalah data biaya produksi dan persediaan pada akhir tahun 1999 dari PT.OTI :
1.      Produksi selama tahun 1999 sebanyak 200.000 unit.
2.      80% dari produksi pada tahun 1999 terjual dan sisanya masih tersimpan di gudang pada akhir tahun.
3.      Biaya bahan baku (Raw Material)                                      Rp.3.000.000                                 
4.      Upah langsung (Direct Labor)                                            Rp.2.500.000                                        
5.      BOP Variabel (variable FOH)                                            Rp.1.000.000                                 
6.      BOP  Tetap (fixed FOH)                                                    Rp.   600.000                                     
7.      Harga jual per unit                                                                         Rp.            50              
8.      Biaya adm & umum (General&Administrative Expense)  Rp.   250.000

Diminta  :

1.      Hitung nilai persediaan akhir  (Ending Inventory) th.1999 dengan met.Variable Costing dan Full Costing.
2.      Buat laporan Laba/Rugi (Income Statement) menurut met.Variable Costing dan Full Costing.






 KASUS 2

SAVAGE GARDEN Corp. adalah sebuah perusahaan yang memproduksi 1 jenis produk. Pada tahun 1999 telah memproduksi 50.000 unit ikat pinggang dengan biaya produksi sebagai berikut :

            BOP  Var (variable FOH).                    Rp.25.000.000
            BOP  Tetap (fixed FOH)                     Rp.30.000.000
            Upah langsung ( Direct Labor cost)         Rp.55.000.000
            Biaya Bahan Baku ( Raw Material cost) Rp.40.000.000
Selain itu terdapat data lain yang berkaitan dengan produksi tsb. sebagai berikut :
-          Pembebanan BOP berdasarkan upah langsung.
-          Biaya upah langsung per unit Rp.1100
-          Produk yang terjual adalah 40.500 unit.
-          Kapasitas normal (normal capacity) terjadi pada saat biaya upah langsung sebesar Rp.75.000.000 per tahun, dimana pada saat itu BOP tetap (fixed FOH) diperkirakan Rp.35.000.000 & BOP  Variabel (variable FOH) Rp.25.000.000
-          Pembebanan lebih/kurang ( over/under applied ) Factory overhead dibebankan ke HPP (Cost of Goods Sold).

Diminta :

1.      Dengan menggunakan metode Full Costing, hitunglah :
a.       Tarif BOP per unit.
b.      Jumlah BOP yang dibebankan untuk th.1999.
c.       Jumlah HPP ( Cost of Goods Sold ).
2.      Dengan menggunakan metode Variable Costing, hitunglah :
a.       Persediaan akhir ( Ending Inventory ).
b.      HPP ( Cost of Goods Sold ).



 KASUS 3


PT.SAKURA menggunakan biaya standar dalam menentukan besarnya biaya produksi. Kapasitas normal yang dimiliki 40.000 unit. Biaya standar per unit produksi untuk bulan April, Mei, Juni tahun 2000 adalah :
                                                          April                            Mei                  Juni
BBB ( raw materials cost )                 Rp.150                         Rp.150             Rp.150
BTKL ( direct labor cost )                  Rp.250                         Rp.250             Rp.250
BOP ( F O H ) V                                Rp.100                         Rp.100             Rp.100
BOP  ( F O H ) T                                Rp.5.000.000               Rp.5.000.000   Rp.5.000.000
Biaya adm & pemasaran (administrative & marketing expense) variabel Rp.55 per unit yang dijual. Biaya adm & pemasaran (adminstrative & marketing expense) tetap Rp.800.000 dan harga jual per unit Rp.850.
Data penjualan & produksi bulan April, Mei, Juni th. 2000 sbb. :
                                                                      April                Mei                  Juni
Persediaan awal ( beginning inventory )        4.000 unit        2.000 unit        5.000 unit
Produksi ( productions )                                38.000             45.000             41.000
Penjualan ( Sales )                                         40.000             42.000             41.000

Selisih tidak menguntungkan              : - Selisih efisiensi tenaga kerja           Rp.300.000
(unfavorable variance)                           ( labor efficiency variance )
Selisih menguntungkan          : - Selisih harga bahan baku    Rp.175.000
(favorable variance)                   (raw material cost  variance)
Seluruh selisih dibebankan ke harga pokok penjualan (Cost of Goods Sold).

Diminta :

1.      Buatlah laporan laba/rugi (income statement) direct costing.
2.      Buatlah laporan laba/rugi (income statement) full costing.